Kamis, 22 Maret 2012

Kuasailah Harta, Jangan Dikuasai!

HAMPIR setiap orang berharap memiliki harta yang berlimpah. Apalagi di zaman semua serba uang. Semua kebutuhan dan keinginan harus diperoleh dengan uang.

Sayangnya orang banyak lupa, gara-gara harta, tidak sedikit yang nestapa. Lihatlah di negara-negara berteknologi maju dan melimpah materi, justru merebak empat penyakit akibat stres: jantung, kanker, radang sendi, dan pernapasan. Inilah gambaran nestapa peradaban materi. Harta yang dicari dan dibangga-banggakan ternyata membawa sengsara. Tak bisa menjamin hidup bahagia.

Agar harta tak sia-sia, kita harus bijak menggunakannya. Jika tidak, kita sama saja lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Miskin menderita, kaya pun sengsara.

Nah, bagaimana seharusnya kita menyikapi harta benda ini?

Orientasi Tauhid

Apa orientasi dasar hidup kita? Bagaimana kita memandang materi yang kita cari dan kita punyai? Untuk apa semua harta yang kita miliki?

Banyak orang, tanpa sadar, belum memiliki orientasi dasar yang benar terhadap harta. Cara pandangnya kabur, terombang-ambing oleh situasi dan kondisi.

Cara pandang seseorang terhadap harta menunjukkan lurus tidaknya orientasi hidupnya. Seorang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan harta menunjukkan orientasi dasarnya adalah kekayaan. Ia menjadikan harta itu sebagai tujuan tertinggi. Sehingga ia rela mengorbankan waktu, kejujuran, dan harga diri demi mendapatkan kekayaan.

Bahkan, berdoanya kepada Tuhan pun tidak ada yang diminta kecuali harta dunia. Nasib di akhirat pun terabaikan. Inilah yang disyinyalir oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Firman-Nya:

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia"; dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Al Baqarah [2]: 200)

Jika itu yang dilakukan, tidak perlu menunggu di akhirat, di dunia pun pasti akan menuai banyak masalah. Ia telah menebar energi negatif. Dan siapa yang menebar angin, ia pasti menuai badai.

Niat dan tindakan yang tidak benar akan berbuah pahit. Konflik dengan keluarga dan kolega, berurusan dengan hukum, sampai ancaman pembunuhan dari mereka yang merasa dizalimi.

Cara-cara seperti itu jelas tidak mengundang berkah dan ridha Allah Ta’ala. Mungkin bisa saja ia berkelit dari jeratan hukum karena kelicinannya. Tapi, tanpa rahmat Allah Ta’ala, kehidupannya tak akan berkah.

Seorang yang telah bersyahadat mestinya menjadikan tauhid sebagai orientasi dasar dalam hidupnya dan menjadikan ridha Allah Ta’ala sebagai tujuan hidupnya. Adapun harta hanya menjadi alat, bukan tujuan. Maka ia akan menggunakan harta sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan mulia itu.

Bernilai Ibadah

Bekerja mencari harta, bila berorientasi benar, bisa memuliakan kita. Meski bekerja terlihat hanya sebagai amalan dunia, tapi jika berbingkai tauhid, semuanya menjadi bernilai ibadah.

Di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ada anak muda yang kuat dan perkasa. Suatu hari, pagi-pagi sekali, ia sudah keluar rumah untuk bekerja mencari harta.

Kemudian ada orang yang berkomentar, “Kasihan sekali orang itu. Andai kata masa mudanya serta kekuatannya digunakan untuk fi sabilillah, alangkah baiknya.”

Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun meluruskannya. Kata beliau, ”Janganlah kamu mengatakan begitu. Sebab kalau keluarnya orang itu dari rumah untuk bekerja demi mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi bila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megahan maka itu fi sabilisy syaithan (karena mengikuti jalan setan).” (Hadits Riwayat Thabrani).

Dengan semangat fi sabilillah harta menjadi berkah. Harta akan mendatangkan kebaikan karena di sana ada rahmat Allah Ta’ala. Kalau ada kelebihan, insya Allah, bukan untuk kesombongan dan bermegahan, tetapi untuk diberikan kepada orang lain sebagai zakat, infak, dan sedekah. Harta yang baik adalah harta yang ada di tangan orang yang baik, yang digunakan untuk beramal shaleh.

Para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada juga yang berharta banyak. Salah seorang di antaranya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia pernah menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya berupa kebutuhan pokok dan barang perniagaan kepada kaum Muslim. Ia juga pernah membeli tanah senilai 40 ribu dinar atau setara Rp 55 miliar untuk dibagi-bagikan kepada para istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan fakir miskin. Ia juga pernah menginvestasikan tak kurang 500 ekor kuda perang dan 1.500 ekor unta untuk jihad fi sabilillah.

Ketika wafat ia pun masih sempat mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diberikan kepada veteran perang Badar. Masing-masing pahlawan mendapat jatah 400 dinar atau setara Rp 560 juta.

Tidak semestinya kelebihan harta menghalangi kita untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan tidak halal jelas hanya akan mempersulit perjalanan menuju Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan halal tetapi belum digunakan di jalan Allah, juga masih belum bernilai di sisi-Nya.

Harta yang telah disedekahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah investasi abadi yang akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah Ta’ala. Sementara harta yang tersimpan, saat maut menjemput, pasti akan kita tinggalkan di dunia ini. Hanya amal yang akan menyertai kita menghadap Allah Ta’ala kelak.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdabda, ”Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Zuhud Sejati

Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia.

Seorang yang punya orientasi dasar tauhid dan istiqamah dengan prinsipnya, akan memiliki mental yang tercerahkan. Kaya bukan semata pada harta, tetapi pada hati. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi.

Sebaliknya, seseorang yang secara materi kaya, tetapi mentalnya masih berkekurangan dan tamak, tak akan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Ia malah ingin menyimpan sebanyak-banyaknya lagi. Mengambil dan mengambil. Orang demikian telah diperalat oleh hartanya.

Seorang yang bertauhid, hanya menjadi hamba Allah Ta’ala, bukan hamba selain-Nya. Ia hanya rela dikuasai oleh Allah Ta’ala, bukan selain-Nya. Orang seperti Abdurrahman bin Auf mampu memberikan hartanya sampai sekian banyak bukan karena ia kaya raya, tetapi karena ia mampu menguasai hartanya.

Sehingga, meski kaya raya, penampilan Abdurrahman bin Auf tetap sederhana. Ia tidak menyombongkan diri. Pakaiannya sama dengan pakaian pelayannya. Di badannya ada dua puluh bekas luka perang. Cacat pincang dan giginya yang rontok sehingga berakibat cadel, adalah tanda jasa di perang itu.

Harta seharusnya hanya menempel di tangan saja, bukan di pikiran, apalagi di hatinya. Itulah zuhud. Zuhud bukan karena tidak ada harta tetapi karena idealisme tauhidnya. Orang seperti inilah yang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Ta’ala yang termaktub dalam Al Baqarah [2]: 201.
وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Wallahu a’lam bish-shawab.*

Selasa, 28 Februari 2012

Tidak Jujur Terkadang Juga Perlu

Idealnya, sepasang suami-istri dapat berkomunikasi dengan penuh kejujuran karena dari hubungan inilah mereka akan mendapat dukungan pribadi paling besar. Bila hati merasa tak nyaman, Anda dapat mencurahkannya pada pasangan Anda dan mendapatkan cinta serta penghiburan. Di hadapan pasangan, Anda dapat menjadi diri sendiri, bagaimanapun sulitnya peranan yang harus Anda mainkan di hadapannya. Bukankah itu tujuan dari pernikahan?

Meski begitu, Anda mesti mempertimbangkan kondisi pasangan Anda dalam menanggung persoalan di pundaknya. Mungkin Anda harus menanggung sendiri sebagian beban bila Anda merasa bahwa pasangan Anda cukup banyak menanggung bebannya sendiri. Anda tidak perlu jujur sepenuhnya. Contohnya, (bila Anda wanita) ketika ada rekan sekerja yang menunjukkan minat seksual pada Anda (kecuali Anda merasa sangat terganggu dan keselamatan Anda terancam). Kalau Anda bisa mengatasinya sendiri, tidak usahlah melibatkan suami. Anda harus melawan godaan itu tanpa menceritakannya pada suami. Anda harus mampu berkata, "Dengar, ini tidak akan terjadi dan jangan ganggu aku lagi!" Perlu diingat, jangan pernah membocorkan rahasia perayu ini kepada siapa pun.
Contoh lainnya yang perlu disimpan adalah keintiman Anda dengan orang lain sebelum bertemu dengan istri atau suami Anda sekarang. Seorang suami atau istri dapat menerima bahwa pasangannya pernah mencintai orang lain sebelum dengan dirinya, asalkan informasi itu dibiarkan samar-samar.

Namun, Anda tidak dapat menghindar bila terjangkit herpes setelah bertugas ke luar kota. Pasangan Anda harus mengetahuinya. Anda berdua juga harus tahu tindakan pencegahan yang harus dilakukan bila akan berhubungan seksual.
Bagaimana cara menyampaikan kenyataan itu kepada pasangan Anda? Katakan pada pasangan bahwa Anda ingin membicarakan suatu masalah pribadi yang serius. Tempat yang Anda pilih bisa di dalam mobil yang diparkir di suatu tempat saat Anda berdua tidak dikenal masyarakat setempat dan jauh dari segalanya. Di sana pasangan Anda akan bebas berteriak, menangis atau apa saja yang ingin dilakukannya untuk menyalurkan emosinya, tanpa menarik perhatian orang. Kalaupun harus dilakukan di rumah, pilihlah waktu ketika anak-anak sedang tidak ada di rumah.

Mungkin semua ini tidak akan menyelamatkan pernikahan Anda, tetapi ini merupakan cara paling layak untuk menyampaikan pengakuan yang mengerikan itu.

Bahagia karena Memberi

Bahagia tidak selalu karena memperoleh sesuatu. Entah barang yang sudah lama kita idam-idamkan atau keinginan yang terpendam terpenuhi. Bahagia bisa juga karena dari memberi. Seperti cerita seorang teman yang bahagia meski ia kehilangan sesuatu. Saat meng-gowes ia berpapasan dengan seorang pemuda biasa yang bersepeda juga. Sepeda pemuda itu begitu biasa, teramat biasa dibandingkan sepeda teman saya tadi. Awalnya hanya berbasa-basi sampai akhirnya pemuda tadi bertanya di mana bisa membeli lampu kelap-kelip yang teramat bagus di matanya itu.

Teman saya sungkan menjawab sebab pasti pemuda tadi akan terkejut. Dengan sedikit berbohong bahwa ia masih memiliki satu lampu seperti itu, ia pun memberikan lampu tadi ke pemuda tadi. Ia merasa senang melihat pemuda tadi mukanya cerah. Teman saya tadi bilang bahwa bisa jadi dulu mukanya begitu sewaktu ibunya membelikan mainan yang ia idam-idamkan. Dengan memberi, teman saya tadi merasa bahagia.
Saya pun merasakan hal yang sama. Hanya saja kali ini saya memberi sesuatu barang yang tidak saya beli. Saya dikasih dan barang itu saya kasih ke teman. Saya sebenarnya berharap sekali memperoleh barang itu, tapi melihat teman saya berkeinginan untuk menjajal bersepeda, ya apa salahnya saya ikut mendukungnya.

Dalam sebuah seminar motivasi, seorang pembicara mengungkapkan kekuatan memberi. Orang yang memberi akan memperoleh imbalan yang berlipat. Entahlah, apakah teman saya tadi berharap imbalan. Saya sendiri yakin ia tidak pernah berharap imbalan. Ia pernah berujar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Dan kita bukanlah gudang yang mampu menampung semua barang "keinginan". Ia mengibaratkan dirinya sebagai saluran. Dan kebahagiaan saluran adalah jika apa yang lewat dari dirinya mengalir dengan lancar dan sampai di tujuan.

Banyak cerita soal memberi ini yang pada akhirnya membuktikan adanya kekuatan memberi, The Power of Giving. Kalau dikaitkan dengan hukum alam, ya "Giving and Receiving". Karena memberi di satu pihak berarti menerima di pihak lain. Dua hal itu adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Teman saya tadi bahagia karena telah memberi kebahagiaan seorang pemuda (yang menerima pemberian lampu). Bisa saja pemuda tadi sudah lama menginginkan lampu kelap-kelip di belakang demi keselamatannya.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan jika Deepak Chopra dalam "7 Spiritual Law of Success" mencantumkan "Law of Giving" sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima.
Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa dan membebaskan oksigen. Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang zaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa Latin currere yang artinya mengalir.( Agus Surono )

Rabu, 22 Februari 2012

Cermin-cermin di Dinding, Begini Kiat Pasang yang Tepat di Rumah

Gantungkanlah cermin dalam sebuah ruangan, Anda telah menambahkan aksesori untuk ruangan itu. Bisa di koridor, ruang tamu, ruang keluarga, di mana pun, cermin akan menambahkan keindahan dalam ruang. Cermin akan membuat ruangan terasa lebih terbuka dan lebih lapang.

Saran para pakar interior, di mana pun Anda berniat memasangnya, pastikan pemandangan yang terpantul lewat cermin memang benar-benar layak. Sebuah cermin di depan jendela akan memantulkan pemandangan indah di luar. Tak cuma itu, ia memberikan ilusi sebagai jendela kedua. Fitur arsitektur yang menarik bila dihadapkan pada cermin akan terefleksikan dan memberikan kesan seimbang pada ruangan.

Saat memasang cermin di kamar mandi, letakkan dekat wastafel. Itu tempat paling populer. Bila ingin cermin berbingkai, ingat selalu kelembaban kamar mandi. Pilih bahan yang tahan lembab, hindari bingkai kayu.

Di kamar tidur? Oh, pastinya cermin panjang. Letakkan pada tempat yang cukup ruang agar seluruh penampilan bisa terlihat saat berdandan.

Anda juga bisa meletakkan cermin di atas meja kerja. Ruangan kerja Anda terasa lebih lapang dan suasana kerja lebih nyaman. Untungnya pula Anda bisa memantau apa pun di belakang Anda.

Cermin menjadi aksen interior menarik saat diletakkan di dekat pintu masuk rumah. Lebih elok lagi bila di bawahnya dipasang meja konsol. Di sana, Anda bisa mengecek penampilan menjelang bepergian. Meja pun berfungsi sebagai tempat meletakkan kunci mobil atau surat saat Anda masuk ke dalam rumah. Beri satu pot tanaman hias di atas meja. Pantulannya di cermin sungguh indah.

Senin, 20 Februari 2012

Levi's: Untuk Buruh, Kini Buat Semua :)

Pertengahan abad XIX, orang berduyun-duyun datang ke San Francisco di pantai barat Benua Amerika. Mereka ingin menambang emas. Levi Straus yang berumur 17 tahun juga ikut rombongan itu. Ia dimodali kakaknya untuk berjualan kanvas untuk tenda dan atap kereta. Padahal ua sangat ingin menambang emas.

Di sana ia melihat celana buruh tambang cepat sekali robek. "Celana mereka seharusnya dibuat dari bahan yang lebih kuat," pikir Levi.

Levi bukan cuma pandai menjahit tenda, tapi juga pakaian. Dibuatnya sehelai celana kerja dari kanvas untuk tenda. Celana berwarna cokelat itu dijual seharga 22 sen dolar kepada seorang buruh tambang. Ternyata banyak buruh lain yang meminta dibuatkan celana serupa. Levi pun beralih profesi menjadi penjual celana.

Celana buatan Levi memang kuat, tetapi kurang nyaman dipakai karena bahannya kaku. Tahun 1860-an ia mengganti bahan celananya dengan kain yang kuat tetapi lebih lembut. Di Eropa kain itu disebut serge de Nimes (kain serge dari Kota Nimes, Prancis). Orang Amerika menyebutnya denim saja. Sebenarnya kain itu tidak dibuat di Nimes, tapi Genoa, Italia, dan digunakan untuk pakaian kelasi. Bahannya disebut gene fustian. Karena susah diucapkan oleh orang Amerika, maka mereka menyebutnya jeans saja. Di Indonesia sendiri sudah ditulis menjadi jins.

Supaya tidak cepat kotor, Levi mencelup kain itu dengan indigo (nila) sehingga warnanya biru. Lahirlah istilah blue jeans.

Bukan cuma buruh tambang yang membeli celana Levi, tapi juga para penggembala ternak yang disebut "koboi". Mereka suka celana yang agak ketat. Sebelum dipakai, celana itu mereka rendam dulu di bak tempat minum hewan supaya mengerut, lalu mereka jemur di terik matahari. Zaman itu banyak kain yang mengerut kalau direndam.

Walaupun blue jeans nyaman dan kuat, tetapi jahitan saku buruh tambang masih sering terlepas. Soalnya, mereka memasukkan palu dan biji-biji emas ke saku.

Tahun 1873, seorang penjahit dari Kansas City bernama Jacob Davis, mengajari Levi untuk memasang paku-paku (klem) ada ujung jahitan saku. Levi juga menambahkan sebuah paku pada jahitan di selangkangan celana supaya tidak mudah terlepas kalau dipakai berjongkok.

Akan tetapi, paku di selangkangan itu membuat kulit di sekitar selangkangan buruh melepuh. Soalnya, saat mereka berjongkok di sekeliling api unggun, tanpa sadar mereka duduk lebih dekat dari api. Karena para buruh yang berasal dari kalangan bawah tak menggunakan pakaian dalam, maka lama-lama kulitnya melepuh. Levi akhirnya menghilangkan paku di daerah situ.

Dalam perkembangan ternyata bukan cuma buruh tambang dan koboi saja yang menggunakan celana Levi. Tua muda dan bahkan para siswa menyukainya. Nah, paku pada saku membuat kursi siswa baret-baret tergesek-gesek paku di saku saat para siswa duduk. Jadi, sejak tahun 1937 jins tak lagi menggunakan paku. Kalaupun berpaku, pakunya pipih dan kecil.

Usaha Levi Strauss berkembang menjadi industri raksasa. Ia tetap membuat pakaian kerja yang kuat dan terjangkau harganya oleh buruh tambang, buruh jalan kereta api, atau koboi. Orang-orang itu turut berjasa membangun bangsa.

Setelah kaya, Levi Straus banyak memberikan beasiswa dan membantu orang-orang muda yang ingin maju.

Cerita kekuatan celana Levi bukanlah isapan jempol. Pernah kaitan yang menghubungkan dua gerbong kereta api patah di tengah jalan. Petugas kereta api membuka celana jinsnya untuk diikatkan pada sambungan gerbong. Kereta pun selamat sampai stasiun. Cerita lain dialami seorang buruh bangunan di Fort Worth, Texas. Celana sakunya terkait ke derek dan melambungkannya ke udara. Ia ketakutan setengah mati karena mengira akan jatuh dan tewas. Ternyata jahitan kantung celananya bisa bertahan sampai ia mendapat pertolongan.

Levi Strauss meninggal tahun 1902. Usaha raksasanya diwarisi oleh kemenakan-kemenakannya. Levi yang awalnya membuat celana untuk kaum buruh tidak sempat menyaksikan celana buatannya masuk ke majalah mode kelas tinggi Vogue. Ia juga tidak melihat sejak tahun 1960-an blue jeans merambah dunia.

Tahun 1970-an rumah-rumah mode berlomba membuat jins mahal. Bahkan ada yang dihiasi intan segala. Jins kini menjadi pakaian buat semua orang. Dari buruh sampai presiden atau selebriti sama-sama menggunakannya. Yang berbeda tentu harganya.

Anda suka memakai jins juga? (Asal Usul, Seri Bacaan Anak)

Sabtu, 18 Februari 2012

Jejaring Sosial bisa Merusak Relasi

Sekitar satu dekade ini, jaringan sosial telah mengubah bagaimana kita berinteraksi dengan teman, toko, jaringan, dan mengumpulkan berita. Banyak dari hampir 1 miliar pengguna Facebook – dan jutaan yang menggunakan Twitter, LinkedIn, atau blog – tak bisa membayangkan berkomunikasi tanpa adanya alat-alat tersebut.
Harlequin 2012 Romance Report menunjukkan bagaimana teknologi mengubah cara pria dan wanita berkomunikasi dengan sesamanya. Potensi untuk meningkatkan hubungan intim menjadi tak terbatas. 

Hari ini mungkin merupakan waktu sempurna untuk mengeluarkan sebuah peringatan: situs-situs jaringan sosial bisa membuka kotak Pandora yang merusak hubungan antarpasangan. Misalnya saja cinta lama bersemi kembali, cemburu dengan aktivitas online pasangan, memata-matai pasangan, dan kedekatan tatap muka yang tergerus.
Inilah beberapa persoalan umum yang bisa terjadi manakala relasi kehidupan nyata berpindah ke situs media sosial:
  • Penuh pengungkapan. Setiap orang yang terlibat dalam relasi online harus bersedia diketahui statusnya di Facebook. Tentu saja ada beberapa perkecualian sesuai dengan aturan yang ada, tapi jika pasangan Anda menolak untuk mengungkapkan relasi Anda di jejaring sosialnya, berarti Anda harus waspada.
  • Kepercayaan. Tak harus Anda dan pasangan menjadi "teman" di situs media sosial. Namun, jika pasangan Anda berteman dan pasangan tidak membiarkan Anda melihat semua teman online dia, Anda harus berhati-hati. Jika kepercayaan menjadi isu yang mengemuka dan hubungan Anda berpotensi mandeg, Anda dan pasangan sudah saatnya berbagi email, pesan-pesan Facebook dan teks untuk memberikan kepastian.
  • Masa lalu. Anda tersanjung ketika “mantan pacar” mencarimu lewat online dan mengirim catatan atau gambar. Sepertinya menggoda untuk menyapa pasangan lama, terlebih saat hubungan Anda dengan pasangan saat ini berada di pinggir jurang. Interaksi macam ini hanya akan merenggangkan, menjauhkan, dan berpotensi merusak situasi kehidupan nyata Anda. Godaan untuk mengulang masa lalu serasa menyenangkan, tapi Anda harus membuangnya jauh-jauh.
  • Terlalu banyak informasi. Ketika hati panas karena kemarahan, situs media sering menjadi tempat curhat. Namun, apakah dunia kudu tahu bahwa pasangan Anda lupa hari ulang tahun Anda. Atau ia mengajak bicara saat Anda asyik menonton pertandingan kesayangan Anda. Cerdaslah tentang apa yang harus Anda keluarkan untuk konsumsi umum. Kurang menghormati pasangan Anda di tempat umum tidak pernah bisa menyehatkan relasi Anda. Ingat itu.
  • Permanen. Apa yang sudah Anda posting, twit, atau email akan tersimpan secara permanen. Bahkan meski pesan dihapus, account ditutup, atau hard disk diformat ulang. Tak seorang pun tahu bahwa aktivitas online kita diawasi. Jadi, jaga aktivitas online Anda bebas konflik dan drama.
Kekuatan untuk menemukan, membangun, dan merawat hubungan akrab yang berkualitas terletak pada individu Anda. Buatlah relasi Anda sebagai prioritas dan investasi dalam membuat hari-hari bahagia, tak hanya di Hari Kasih Sayang saja....:P

Rabu, 15 Februari 2012

PENGETAHUAN SEDIKIT TENTANG NADZAR

Nadzar adalah pembebanan diri (pengharusan) yang dilakukan oleh seorang mukallaf (muslim) untuk melakukan suatu perkara yang tidak wajib baginya karena Allah swt dengan menggunakan redaksi yang menunjukkan hal tersebut, seperti, "Karena Allah, aku wajib mengerjakan hal ini", dan semisalnya.

Syariat Membenarkan Nadzar

QS. Al-Baqarah ayat 270:
"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

QS. Al-Insan ayat 7:
"Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana."

Rasulullah saw bersabda,
"Barangsiapa yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah maka hendaknya mengerjakannya, tapi siapa yang bernadzar untuk melakukan maksiat kepada Allah maka tidak boleh melakukannya." (HR. Bukhari)

Seluruh ulama sepakat (ijma') bahwa secara umum, nadzar adalah sah dan wajib dipenuhi.

Macam-Macam Nadzar

Nadzar terdiri dari dua macam, yakni:
 
1. Nadzar Mutlak
Maksudnya adalah mengharuskan diri sendiri untuk melakukan sesuatu tanpa mengaitkannya dengan apapun. Misalnya, dengan mengatakan, "Karena Allah, aku harus shalat dua rakaat." Kebanyakan ulama menganggap nadzar seperti ini makruh, tetapi mereka menyatakan bahwa pelakunya tetap wajib memenuhi nadzarnya dan mendapat pahala karena mengerjakannya. Sedangkan sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa nadzar tersebut tidak wajib dipenuhi melainkan dianjurkan saja. (Dikutip dari Al-Muhalla, vol. 8 hal. 2, Nailul Authar, vol. 8 hal. 277 dan Subulus Salam,vol. 4, hal. 1446)

2. Nadzar Mu'allaq
Maksudnya adalah mengharuskan diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu dan mengaitkannya dengan kejadian tertentu, seperti mendapat nikmat atau terhindar dari bencana. Misalnya, dengan mengatakan, "Kalau Allah menyembuhkan penyakitku, maka aku harus memberi makan orang miskin." Pada dasarnya, nadzar mu'allaq adalah makruh bila diucapkan sejak awal (sebelum terjadi sesuatu). Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya nadzar tidak mendahulukan dan tidak pula menunda sesuatu, melainkan sesuatu yang dikeluarkan akrena nadzar dilakukan oleh orang yang kikir." (HR Bukhari-Muslim)

Hukum-Hukum Seputar Nadzar


1. Orang yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah maka wajib memenuhinya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw, "Barangsiapa yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, maka hendaknya mengerjakannya." (HR. Bukhari). Jika ia tidak mampu memenuhinya, maka harus menebusnya dengan kaffarah sumpah. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, "Kaffarah nadzar adalah kaffarah sumpah." (HR. Muslim dan Nasa'i)


2.Orang yang bernadzar untuk melakukan perbuatan maksiat maka haram memenuhinya dan wajib menebusnya dengan kaffarah. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw,"Dan barangsiapa yang bernadzar untuk melakukan maksiat kepada Allah maka tidak boleh melakukannya." (HR. Bukhari). Rasulullah saw juga bersabda, "Tidak ada nadzar untuk maksiat dan kaffarahnya adalah kaffarah sumpah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah).

3. Orang yang bernadzar untuk melakukan suatu perbuatan yang mubah dan mampu dikerjakan maka dia wajib memenuhinya atau menebusnya dengan kaffarah. Karena, nadzar yang mubah adalah nadzar yang dibenarkan, sehingga termasuk dalam pengertian umum nadzar yang diperintahkan untuk dipenuhi (Dikutip dari Ar-Raudhah An-Nadiyyah, vol. 2 hal. 177).

Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang wanita berkulit hitam yang berkata kepada Rasulullah saw,"Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar kalau Allah mengembalikanmu kepada kami dalam keadaan selamat maka aku akan menabuh rebana dan bernyanyi di depanmu." Rasulullah saw berkata, "Kalau memang engkau telah bernadzar, maka lakukanlah. Tapi jika tidak jangan lakukan." Wanita itu pun mulai menabuh rebana... (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad hasan).

4. Orang yang bernadzar melakukan suatu perbuatan yang disyariatkan oleh Allah atau mengerjakan perbuatan yang dibenarkan syariat tapi tidak sanggup mengerjakannya, maka dia tidak perlu mengerjakannya. Akan tetapi, wajib membayar kaffarah sumpah. Suatu ketika, ada yang menyampaikan kepada Rasulullah saw bahwa Abu Isra'il bernadzar akan tetap berdiri dan tidak akan duduk, tidak berbicara dan terus berpuasa.

Rasulullah sawb bersabda, "Suruhlah dia agar berbicara, berteduh, duduk, dan tetap menyelesaikan puasanya." (HR. Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Dalam sebuah hadits tentang orang yang bernadzar untuk pergi ke Mekkah (Ka'bah) dengan berjalan kaki, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya, Allah tidak membutuhkan (cara ibadah) yang dilakukan oleh orang ini dengan menyiksa dirinya sendiri." Lalu, beliau menyuruhnya menunggang kendaraan. (Diriwayatkan Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Kewajiban membayar kaffarah dalam kondisi seperti ini berdasarkan kepada pengertian mutlak hadits-hadits yang mengharuskannya. Wallahu a'lam.

5. Orang yang bernadzar untuk melakukan sesuatu yang tidak ditentukan langsung harus menebusnya dengan kaffarah sumpah. Misalnya, "Karena Allah aku bernadzar" tanpa menyebutkan bentuk nadzarnya. Menegnai hal ini Nabi saw bersabda, "Kaffarah nadzar yang tidak dijelaskan adalah kaffarah sumpah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ahmad).

6. Bagaimana jika ada yang bernadzar menyedekahkan seluruh hartanya?
Apabila orang tersebut benar-benar kuat dalam keimanan, tawakkal, kesabaran, dan keyakinannya kepada Allah swt serta tidak membahayakan anak-anaknya, maka boleh menyedekahkan seluruh hartanya seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ra. Tetapi apabila kondisinya tidak seperti itu dan dikhawatirkan akan membahayakan anak-anaknya, maka dia cukup menyedekahkan satu per tiga (1/3) hartanya dan harus membayar kaffarah sumpah.

Ketika mengetahui Allah menerima tobatnya, Ka'ab bin Malik berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu bentuk tobatku adalah memberikan seluruh hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan Rasulnya." Nabi saw berkata, "Pertahankan sebagian hartamu, karena itu lebih baik bagimu." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw berkata, "Tidak." Ka'ab bertanya lagi, "Setengahnya?" Beliau menjawab, "Tidak." Ka'ab bertanya lagi, "Sepertiga?" Beliau menjawab, "Ya." (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Orang yang mengucapkan nadzar lalu meninggal sebelum memenuhinya, maka wali orang tersebut harus memenuhinya. Ibnu Abbas ra berkata, "Sa'ad bin Ubadah ra meminta fatwa Nabi saw mengenai nadzar ibunya yang belum dipenuhi sampai meninggal dunia. Maka, Rasulullah saw berkata, "Lunasilah nadzarnya." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). (Catatan nadzar di sini lebih kepada hutang atau pinjaman)

8. Nadzar bukan karena Allah adalah perbuatan syirik. Karena itu, tidak boleh bernadzar karena selain Allah. Contohnya adalah mengatakan, "Jika anakku sembuh, maka aku harus menyembelih kurban untuk Sayyid al-Badawi!", dan redaksi lain yang mirip dengannya. Pernyataan ini sama dengan sumpah dengan menyebut selain Allah, sehingga termasuk perbuatan syirik.

Ash-Shan'ani rahimahullah berkata, "Nadzar-nadzar yang berkembang pada saat sekarang ini yang dilakukan terhadap kubur, makam, dan orang-orang yang telah meninggal jelas sekali keharamannya. Karena orang yang bernadzar seperti itu meyakini bahwa orang yang berada di dalam kuburan tersebut dapat memberi manfaat dan mudharat, menganugerahkan kebaikan dan menolak kejahatan, memulihkan penyakit, dan menyembuhkan orang sakit. Padahal itulah yang dilakukan oleh para penyembah berhala. Oleh sebab itu, nadzar seperti ini hukumnya haram seperti halnya nadzar kepada berhala. Haram juga mengambil barang yang dinadzarkan karena merupakan bentuk pengakuan terhadap syirik.

Nadzar seperti ini harus dilarang dan dijelaskan bahwa ia termasuk perbuatan haram yang paling besar dan merupakan perbuatan para penyembah berhala. Masalahnya, waktu telah berjalan begitu lama sehingga yang baik dianggap mungkar sedangkan yang mungkar dianggap baik, lalu maraklah orang-orang yang menyatakan dirinya juru kunci untuk pelaksanaan ritual nadzar kepada orang-orang yang telah meninggal. Mereka menyediakan berbagai bentuk jamuan kepada orang-orang yang mengunjungi kuburan dan menyembelih hewan di depan pintu gerbangnya. (Dikutip dari Subulus Salam vol. 4 hal. 1448)

Selasa, 14 Februari 2012

Berbohong dengan Statistik by Mohammad Fauzil Adhim

Dariel Huff pernah menulis sebuah buku yang memukau, How to Lie with Statistic, bagaimana berbohong dengan statistik. Melalui buku ini, Huff menunjukkan bahwa statistik bisa–atau malah kerap kali–menjadi alat berbohong kepada publik yang sangat efektif. Sebagian lagi, statistik berbohong karena peneliti tidak cermat menganalisis. Peneliti gegabah mengambil kesimpulan. Tidak mencoba menyelami lebih jauh, apa yang ada di balik fakta.
Huff, kemudian menunjukkan berbagai peluang kebohongan. Kalau tidak hati-hati, kita bisa keliru menggunakan data. Kita telan mentah-mentah data yang disajikan beserta kesimpulannya. Padahal, banyak masalah yang perlu kita cermati lebih lanjut. Banyak pertanyaan yang harus kita ajukan secara cerdas.

Bagi kita yang begitu percaya pada data statistik tanpa mempertanyakan sedikit pun, boleh jadi kaget ketika membaca uraian Dariel Huff. Kita tercengang membaca karya illmuwan yang jago statistik ini. Justru karena pengetahuannya yang sangat mendalam pada bidang statistik itulah, ia bisa melahirkan tulisan yang sangat mengejutkan tersebut.
Bicara tentang statistik, Disraeli lebih sinis lagi. Ia mengatakan, di dunia ini cuma ada tidak macam kebohongan: lies, damned lies, dan statistic (dusta, dusta yang keji, dan statistik). Data statistik yang termasuk kategori dusta, kerap kali muncul pada pseudo-research (penelitian semu). Sepanjang yang saya ketahui, ada tiga macam penelitian: common sense research, purposive research, dan academic research. Diantara ketiga jenis tersebut, academic research atau disebut juga scientific research merupakan penelitian yang paling dapat dipercaya. Tetapi saya tidak tahu, penelitian yang dilakukan dosen untuk mengejar credit point semata-mata, apakah dengan sendirinya dapat dianggap sebagai penelitian akademis (academic research), ataukah termasuk kategori purposive research–penelitian bertujuan, yakni mengarahkan hasil penelitian sesuai keinginan untuk suatu kepentingan. Common sense research–penelitian anggapan umum–jelas termasuk pseudo-research. Meskipun datanya dapat dilihat sebagai masukan awal untuk melihat fenomena sosial, tetapi hasil penelitian tidak bisa dipakai untuk membuat kesimpulan tentang realitas sosial yang ada.

Penelitian yang menunjukkan bahwa 97,05% cewek Yogya sudah tidak perawan lagi, termasuk contoh common search research. Sekurangnya, ada dua kemungkinan munculnya data seperti ini. Pertama, peneliti melakukan manipulasi data. Manipulasi ini berbentuk menyortir data yang tidak diinginkan, menyembunyikan data lain yang dibutuhkan, mendongkrak (mark up) data yang ada, atau memang secara selektif memilih subjek yang sangat potensial bermasalah. Kedua, peneliti tidak terlalu menguasai meteodologi penelitian sehingga salah dalam mengambil sampel atau tidak memiliki penguasaan logika yang baik. Kemungkinan pertama termasuk kekejian, kejahatan akademis, dan sekaligus penghinaan terhadap martabat kaum muslimah di Yogya. Sedangkan, kemungkinan kedua termasuk kebodohan yang perlu kita kasihani. Katakanlah data yang diungkapkannya benar, tetap saja ada masalah kekeliruan logika: fallacy of dramatic instance. Sumber data yang diambil sebagai sampel, populasinya sangat kecil, tapi tiba-tiba digeneralisasi sebagai realitas cewek Yogya.

Alhasil, menggunakan data statistik perlu cerdas. Hasil penelitian yang disajikan kepada kita harus ditanyakan, apakah secara metodologis benar? Kalau benar, apakah secara logika juga benar? Bisa saja secara metodologis benar, tetapi secara logika salah. Methodologically right logically wrong. Misalnya, pernah suatu ketika ada penelitian tentang dampak TV. Ada dua kelompok subjek–anak–yang diteliti. Yang satu, nonton film-film yang berbau kekerasan ketika berada di sekolah selama dua minggu. Yang satunya lagi, nonton film yang tidak ada unsur kekerasannya, juga di sekolah selama dua minggu. Setelah subjek itu diteliti, apakah film kekerasan berpengaruh pada agresivitas anak? Hasilnya? Tidak ada perbedaan yang signifikan. Penelitian ini sempat diekspos di beberapa media dan orang mengangguk-angguk. Tetapi, mereka lupa bertanya, apa yang dilakukan anak selama di rumah? Bagaimana dengan pengaruh tayangan kekerasan yang dilihat selama bertahun-tahun sebelum penelitian? Bukankah tayangan yang dilihatnya lebih dulu selama bertahun-tahun menciptakan eikonoklasme–pengikutan, gampangnya peniruan–yang susah dihapus?
…. Sebagai penutup, ingin saya nukilkan perkataan Lin Yutang, ahli bahasa dan filsuf Cina yang hidup pada 1895-1976. Kata Lin Yutang, “Untuk menjadi seorang penulis, Anda harus memiliki rasa ingin tahu tentang apa saja di sekeliling Anda, merasakan secara lebih mendalam, dan lebih memahami berbagai hal dibanding orang lain.”

Catatan:
1) Tulisan di atas merupakan kutipan dari Mohammad Fauzil Adhim, “Cerdas Menggunakan Data”, Pengantar dalam Robi’ah Al-Adawiyah, Kenapa Harus Pacaran?! (Bandung: DAR! Mizan, 2004), hlm. 25-29 dan 32.