Rabu, 29 Februari 2012

Jokowi Akan Tampil di Opera Van Java

Surakarta - Program komedi Opera Van Java yang tayang di stasiun televisi Trans7 akan mengadakan pertunjukan di Stadion Sriwedari Surakarta pada 17 Maret mendatang. Perwakilan Trans Corp di Surakarta, Arie Kuswidianto mengatakan dia sudah meminta kesediaan Wali Kota Surakarta Joko Widodo dan Wakil Wali Kota Surakarta Hadi Rudyatmo untuk tampil di acara tersebut.

“Sementara ini keduanya menyatakan sanggup,” ujarnya kepada wartawan seusai rapat koordinasi di Balai Kota Surakarta, Senin, 27 Februari 2012.

Tentang konsep cerita dan tema yang akan ditampilkan, hingga kini ia mengakui belum kepastiannya karena masih dibahas oleh tim kreatif Opera Van Java. Yang jelas, katanya, seluruh personel dijadwalkan hadir di Surakarta.

Sebenarnya, dia melanjutkan, sudah sejak tahun lalu Surakarta dibidik untuk pertunjukan Opera Van Java. Surakarta dinilai sudah cukup terkenal di Indonesia, terlebih dengan pemimpin daerah seperti Jokowi. “Sejak 2011 kami merencanakan tampil di Solo. Tapi baru terealisasi awal tahun ini,” ujarnya.

Untuk memuaskan penggemar di Surakarta, dia menjanjikan penampilan yang berbeda dibanding biasanya. Apalagi ketika bintang-bintang Opera Van Java beradu akting dan kelucuan dengan Jokowi. “Kami juga menggratiskan pertunjukan nanti,” ucapnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Surakarta Sri Baskoro yang turut dalam rapat koordinasi membenarkan rencana Opera Van Java yang akan menggelar pertunjukan di Surakarta.

Sri mengatakan, institusinya kini mulai mempersiapkan pola pengaturan lalu lintas untuk mencegah kemacetan di sekitar lokasi acara. “Kami memperkirakan arus kendaraan akan padat di sekitar Sriwedari. Sebab pertunjukan di atas digratiskan, sehingga akan menarik animo masyarakat untuk menonton,” katanya.( Sumber : Tempo )

Jokowi Pecat Ajudan Gara-gara Kalah Ganteng

Jakarta - Joko Widodo, Wali Kota Solo, mengatakan pernah memiliki pengalaman unik ketika pertama kali menjalankan tugas di Balai Kota Solo tujuh tahun lalu. "Saya punya ajudan lebih gagah dan ganteng dari saya," kata Wali Kota yang akrab disapa Jokowi itu dalam pidatonya seusai menerima Charta Politika Award III di Gedung Usmar Ismail, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa, 28 Februari 2012 malam.

Persoalannya, menurut Jokowi, dengan memiliki ajudan yang seperti itu, setiap tamu yang berniat bertemu dengannya ternyata malah menyalami ajudannya. "Tidak hanya sekali, dua kali, atau tiga kali. Saya tidak tahan, akhirnya saya pecat," ucap Jokowi.

Setelah itu, akhirnya Jokowi memilih untuk mencari ajudan yang tidak dapat 'menyainginya' seperti yang dilakukan ajudan sebelumnya. "Jadi, 7 tahun belakangan ini, yang disalami adalah saya," katanya yang kemudian disambut gelak tawa hadirin dalam acara pemberian anugerah politik tersebut.

Dalam acara Charta Politika Award III, Jokowi memperoleh penghargaan untuk kategori Politisi dari Kepala Daerah. Direktur Riset Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan hasil penelusuran media analisis lembaganya menunjukkan jumlah intensitas pernyataan Jokowi tertinggi di antara nominator lainnya. "Sepak terjangnya selalu menghiasi pemberitaan media sepanjang tahun 2011," kata Yunarto.

Selain mempunyai intensitas pernyataan yang tinggi, Jokowi juga dianggap memiliki pengaruh yang baik di media. Pembuatan mobil nasional Esemka karya siswa sekolah menengah kejuruan yang sempat heboh mendapatkan porsi liputan pemberitaan yang tinggi di media. "Penataan birokrasi di lingkungan pemerintahan Kota Solo juga mendapat apresiasi yang bagus di media," ujar Yunarto.( sumber : Tempo )

Jokowi Pecat Ajudan Gara-gara Kalah Ganteng

Jakarta - Joko Widodo, Wali Kota Solo, mengatakan pernah memiliki pengalaman unik ketika pertama kali menjalankan tugas di Balai Kota Solo tujuh tahun lalu. "Saya punya ajudan lebih gagah dan ganteng dari saya," kata Wali Kota yang akrab disapa Jokowi itu dalam pidatonya seusai menerima Charta Politika Award III di Gedung Usmar Ismail, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa, 28 Februari 2012 malam.

Persoalannya, menurut Jokowi, dengan memiliki ajudan yang seperti itu, setiap tamu yang berniat bertemu dengannya ternyata malah menyalami ajudannya. "Tidak hanya sekali, dua kali, atau tiga kali. Saya tidak tahan, akhirnya saya pecat," ucap Jokowi.

Setelah itu, akhirnya Jokowi memilih untuk mencari ajudan yang tidak dapat 'menyainginya' seperti yang dilakukan ajudan sebelumnya. "Jadi, 7 tahun belakangan ini, yang disalami adalah saya," katanya yang kemudian disambut gelak tawa hadirin dalam acara pemberian anugerah politik tersebut.

Dalam acara Charta Politika Award III, Jokowi memperoleh penghargaan untuk kategori Politisi dari Kepala Daerah. Direktur Riset Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan hasil penelusuran media analisis lembaganya menunjukkan jumlah intensitas pernyataan Jokowi tertinggi di antara nominator lainnya. "Sepak terjangnya selalu menghiasi pemberitaan media sepanjang tahun 2011," kata Yunarto.

Selain mempunyai intensitas pernyataan yang tinggi, Jokowi juga dianggap memiliki pengaruh yang baik di media. Pembuatan mobil nasional Esemka karya siswa sekolah menengah kejuruan yang sempat heboh mendapatkan porsi liputan pemberitaan yang tinggi di media. "Penataan birokrasi di lingkungan pemerintahan Kota Solo juga mendapat apresiasi yang bagus di media," ujar Yunarto.( Sumber Tempo )

Ungguli Foke, Jokowi Kaget

Jakarta - Wali Kota Solo Joko Widodo, biasa disapa Jokowi, menyatakan keheranannya terhadap tingginya hasil survei terhadap dirinya untuk maju dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012.

"Kemarin saya dikirim hasil survei. Waktu diadu dengan Pak Foke (Fauzi Bowo), hasilnya saya kaget juga. Tapi gimana? Saya tidak daftar (jadi gubernur)," kata dia di Gedung Usmar Ismail, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa, 28 Februari 2012, malam.

Jokowi menambahkan, dia merasa tidak mengerti dengan berbagai survei yang ditujukan kepadanya berkaitan dengan pencalonan Gubernur Jakarta tahun ini. "Saya tidak daftar (jadi gubernur), kok disurvei?" ujarnya.

Meski hasil survei terhadapnya tinggi, Jokowi menyatakan hingga saat ini dirinya belum mendaftar untuk maju dalam pencalonan Gubernur DKI. Pembicaraan dengan partai untuk mengusungnya maju menjadi DKI 1 juga belum dilakukan. "Tidak ada (pembicaraan itu)," ucap kader PDI Perjuangan itu.

Menurut Jokowi, dirinya tidak ingin mengejar jabatan. Dia hanya akan maju dan "bertarung" menjadi orang nomor satu di Jakarta jika memang ditugaskan oleh partai. "Kalau tidak (ditugaskan), ya tidak (maju)," kata wali kota yang namanya kembali dikenal luas karena pemberitaan soal mobil nasional Esemka itu.( Sumber : Tempo )

Selasa, 28 Februari 2012

Asal muasal Piala Oscar

Academy Award 2012 barusan usai. Minggu malam, 26 Februari lalu, di Los Angeles, Amerika Serikat, film The Artist terpilih sebagai film terbaik. Selain itu, Meryl Streep dinobatkan sebagai aktris terbaik lewat film The Iron Lady, seperti prediksi banyak orang. Bagi para pemenang Academy Award, mereka mendapat trofi simbolik penganugerahan: patung lelaki berwarna emas mengilap bernama Oscar.


Pada saat patung Oscar ini diciptakan, tujuan terutama dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) adalah memberikan penghargaan kepada pencapaian yang diperoleh para pekerja industri film. Academy Awards adalah salah satu hasilnya.
Trofi simbolis menjadi salah satu unsur penting dalam sebuah penganugerahan penghargaan, yang bisa diberikan saat penganugerahan di atas panggung. Untuk itu, Art Director MGM, Cedric Gibbons, diminta untuk mendesain trofi Academy Award. Diputuskan, bentuknya adalah patung manusia lelaki. Hasilnya seperti yang selalu kita lihat dalam penganugerahan Academy Award: seorang ksatria yang simpel (telanjang juga) berdiri di atas rol film dan menggenggam pedang, dibuat dari emas berkilau. Pembuat patung trofi ini adalah George Stanley, seorang pematung dari Amerika. Penganugerahan Academy Award pertama adalah pada 1929.

Dari mana nama Oscar?

Apakah Anda tahu bahwa nama resmi patung tersebut adalah Academy Award of Merit, bukan “Oscar” seperti dikenal secara umum? Nama “Oscar” memang sepertinya lebih mendunia dibandingkan nama aslinya. Bagaimana ceritanya patung itu diberi nama Oscar?
Ada banyak versi cerita. Namun yang paling populer adalah cerita yang satu ini. Ceritanya, suatu hari di tahun 1931, Margareth Herrick, pustakawati AMPAS (belakangan ia menjadi direktur eksekutif AMPAS), melihat patung emas tersebut di atas meja. Seketika ia berseru,”Patung ini mirip sekali dengan pamanku, Oscar!” Paman dari Herrick adalah Oscar Pierce, seorang petani Texas. Sejak saat itu, nama Oscar selalu melekat di sosok telanjang berwarna emas tersebut, sampai sekarang.
Meskipun asal-usul namanya tidak jelas, tapi popularitas si Oscar ini sangat jelas. Pada 1934, Sidney Skolsky, seorang reporter dari Hollywood, mulai menggunakan nama Oscar itu, dalam tulisannya yang mengangkat Katherine Hepburn’s, pemenang Academy Awards saat itu. Walt Disney juga menggunakan julukan itu pada saat penganugerahaan di tahun yang sama.  Akhirnya, AMPAS menyematkan nama Oscar secara resmi kepada patung emas itu pada 1939.

Perubahan dari masa ke masa

Sejak 84 tahun yang lalu sampai sekarang, si Oscar tidak mengalami banyak perubahan. Jika dibandingkan antara patung pertama tahun 1929 dan saat ini, perbedaannya tipis. Tingginya 34,3 cm dan beratnya 3,9 kg.
Tapi ada perubahan fundamental yang terjadi. Saat Academy Award pertama, 16 Mei 1929, patung yang disediakan sebagai simbol penganugerahan sebanyak 15 patung. Para Oscar saat itu terbuat dari tembaga padat yang berlapis emas dan ditempatkan di atas alas yang terbuat dari marmer hitam Belgia.
Bahan tembaga padat itu tidak bertahan lama, karena akhirnya dibuat dari bahan metallic alloy britannium, yaitu logam campuran yang menyerupai timah putih. Saat Perang Dunia (PD) II, terjadi kelangkaan logam di Amerika Serikat. Tak pelak, hal itu juga berpengaruh kepada bahan dasar pembuatan Oscar. Akhirnya, selama PD II Oscar dibuat dari gips cetak. Baru setelah PD II selesai, Oscar mulai dibuat kembali dari bahan logam.

Pada 1945 juga ada perubahan kecil di bagian pijakan kaki patung: rol film dibuat lebih tinggi dan tidak lagi dibuat dari bahan marmer, melainkan dari logam. Pada 1949, patung-patung mulai diberi nomor seri, dimulai dari 501 tanpa tahu alasannya kenapa angka itu dipilih. Nomor seri ini dicetak di belakang tumit Oscar.( Sumber : Ensiklopedi sejarah dunia )

Kamis, 23 Februari 2012

Kamu tahu nggak, Bikini Itu apa??

Itulah yang terjadi di AS pada dasawarsa 1950-an, setelah "penemuan baju renang baru" di Paris pada 1946 dipublikasikan. Semula, baju bertali-tali yang hanya menutupi bawah pusar dan buah dada perempuan itu dikecam karena dianggap bertentangan dengan konservatisme Amerika. Ketika pantai-pantai di Italia, Spanyol, Prancis, dan Brasil ramai oleh perempuan berbikini, di pantai Amerika, menampakkan pundak saja dianggap tak sopan. Tapi, tak sedikit perempuan AS yang diam-diam menyukainya.

Rupanya, yang berbikini di luar AS bisa jadi orang Amerika juga. Sebab seusai PD II perekonomian AS membaik hingga memakmurkan warganya. Mereka menjadi turis di mancanegara sambil mencari kebebasan berbikini. Yang tidak melancong, ya berbikini di halaman belakang rumah atau di kolam renang pribadi. Asal tahu saja, jumlah kolam renang pribadi di AS meningkat dari 2.500 (pada 1949) menjadi 87.000 (1959). Majalah Newsweek dalam satu edisi di tahun 1958 menyindir, "Bikini adalah komoditas penuh kontroversi. Dikecam, diboikot, namun laris diperdagangkan. Tiras penjualannya hanya terpaut sedikit dengan bacaan mesum Lady Chatterly's Lover."

Untung, kemunafikan Amerika tak berlanjut karena pelan-pelan masyarakat menerima. Untuk itu mereka patut berterima kasih kepada dua orang pioner asal Prancis. Ditulis dalam Great Events From History II Vol. 3 (1993), orang pertama adalah perancang busana Jacques Heim, yang pada musim panas 1946 menjajakan pakaian renang perempuan di Pantai Cannes. Ia menamai celana dan kutang itu "Atome" untuk menunjukkan ukurannya yang kecil. Ia mengiklankannya dalam spanduk yang diikat pada pesawat terbang bertuliskan "Atome - pakaian renang terkecil di dunia".

Tiga minggu kemudian, ulah Heim disaingi Louis Reard, insinyur mesin yang alih profesi menjadi perancang pakaian renang. Ia juga menerbangkan slogan produknya: "Bikini - lebih kecil daripada pakaian renang terkecil di dunia". Reard cukup agresif. Pada 5 Juli 1946 ia menggelar peragaan karyanya di tepi kolam renang Piscine Molitor, Paris. Reard mengontrak penari bugil Micheline Bernardini untuk memperagakan "bikini".

Rupanya, acara itu sukses. Malah berbuntut kehebohan. International Herald Tribune menurunkan sembilan tulisan tentang bikini, seraya membahas kemungkinannya diterima di AS. Pada 1950-an, majalah Harper's Bazaar dan Esquire mempublikasikan foto model nomor satu di AS, Suzy Parker, memakai bikini. Kemudian, dunia hiburan juga ikut. Pada 1960, lagu Itsy Bitsy Teenie Weenie Yellow Polkadot Bikini masuk daftar tangga lagu populer. Hollywood juga mengedarkan film Where The Boys Are, kisah mahasiswa dengan aktivitas pikniknya di Pantai Fort Lauderdale, Florida.

Pada 1970-an, perputaran uang di sektor bisnis busana renang mencapai AS $200juta/tahun, dan bikini menyedot 20%-nya. Kenapa dinamai "bikini"? Sampai perancangnya meninggal dalam usia 87 pada 1984, tak banyak terkuak. Orang menduga-duga, nama itu dipilih untuk menunjuk pulau atol kecil di Pasifik bernama "Bikini" yang hancur karena dijadikan pusat pengujian bom nuklir AS pada 1946. Dugaan lain, nama "bikini" ditujukan kepada besarnya dampak kehadiran pakaian renang itu pada peta busana dunia. Bikini adalah ledakan di dunia fashion.

Bikini, sekalipun jadi fenomena abad ke-20, sesungguhnya bentuk primitifnya sudah lama ada. Gambar perempuan mengenakan penutup badan mirip bikini pada lukisan dinding di Mino, dekat Pulau Kreta, Yunani, buatan tahun 1600 SM, adalah bukti tertua. Pada 1952, arkeolog Italia juga menemukan mosaik bergambar delapan perempuan sedang gerak badan, mengenakan semacam celana dan kutang penutup buah dada, pada vila bergaya Romawi buatan tahun 400 di Pulau Sisilia.

Bikini, di luar mitosnya, telah ada jauh sebelum menghebohkan Kota Paris tahun 1946 itu.