
Hidup penuh misteri. Terkadang kita tidak tahu apa yang terbaik bagi
jalan kita. Cerita di bawah ini semoga menyadarkan kita bahwa Tuhan
pasti memberikan yang terbaik bagi kita.
Aku membencinya. Sangat
membencinya, dan itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku
hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak
pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Aku memang menikah karena
paksaan orangtua. Namun begitu aku tak tunjukkan kebencian itu kepada
suamiku. Setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas seorang istri.
Bisa jadi karena aku tak punya pegangan lain. Aku terbiasa taken for granted
sebagai anak satu-satunya orangtuaku. Kedua orangtuaku menyayangi
suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna.
Alhasil,
di awal pernikahan kami, aku begitu manja dan suamiku pun memanjakanku.
Aku berpikiran bahwa aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga
tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di
rumah kami, akulah ratunya. Ada sedikit saja masalah, aku selalu
menyalahkan suamiku. Aku tak suka perilakunya yang tak sesuai dengan
keinginanku. Misalnya saja meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas
meja dan meninggalkan bekas lengket, menggantung bajunya di kapstock
bajuku, memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi,
atau menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang
bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk
tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus
anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya
ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa
minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan
baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Dokter pun menolak
menggugurkan janin yang aku kandung.
Itulah kemarahanku terbesar
padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak
kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya
melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia
melakukan hal itu karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama
kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa
berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun
paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan.
Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar
anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau peringatan
ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa
mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya.
Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yah, karena
merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum
ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak.
Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya
dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun
akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga
beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika
mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon milik sahabatku.
Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Di salon aku bertemu salah
satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan
asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Ketika mau membayar, aku
terkejut karena dompetku tertinggal di rumah. Sambil berusaha
mengingat-ingat apa yang terjadi, aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf
sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil
maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau
tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan
dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar.
Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian,
ponselku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya
dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang
sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang
ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali.
Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku
kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa
suamiku akan datang membawa dompetku yang tertinggal. Pemilik salon
sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan bisa membayar nanti waktu aku
kembali lagi. Tapi aku merasa gengsi karena ada "musuhku" tadu.
Hujan
turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera
sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga
mulai menghubungi ponsel suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah
berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering
teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Akhirnya
telepon suamiku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika
suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing di ujung sana.
Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan
diri, “Selamat siang, Ibu. Apakah Ibu istri dari Bapak Armandi?”
Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi.
Ia menyampaikan kabar bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini
ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Aku terdiam dan hanya
menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan
bingung. Tanganku menggenggam erat ponsel. Beberapa pegawai salon
mendekatiku dengan sigap begitu melihat wajahku menjadi pucat seputih
kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah
bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku
yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang
gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini
dialah yang melakukan segalanya untukku. Tepat ketika kumandang adzan
maghrib terdengar, seorang dokter keluar dan menyampaikan berita bahwa
suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, namun
juga serangan stroke. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk
menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock.
Sama sekali tak ada air mata setetes pun keluar di kedua mataku.
Anak-anak memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak
mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku
duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali
inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas.
Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan saksama. Saat itulah dadaku
menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh
tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya. Inilah kali pertama
kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata
merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha
mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku
ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang
suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, air mataku
semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang
mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku
berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah
kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat
betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah
mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia
memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika
mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku
makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan.
Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya.
Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir
seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mi cepat saji dan
kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin
terpaksa makan mi cepat saji karena aku hampir tak pernah memasak
untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak
perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan
masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari
karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau
jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku
tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang
bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apa pun sampai
terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal
memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia
karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan
dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah
kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak
di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku
duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu, dan ibu
mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku
membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa
membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan
ketika malah Ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar
mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali
aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman
kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di
kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya
di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara
dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu
mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di
kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong
dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan
meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out. Sekarang aku
memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya
masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi
tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan
pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote control televisi
yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku
berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku
juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal
meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di
sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa
menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang
membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku salat meskipun
kini kulakukan dengan ikhlas. Aku salat karena aku ingin meminta maaf,
meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi
padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada
suami yang begitu sempurna. Salatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit
demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak
perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama
ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka
setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya,
keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak
yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku.
Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan
suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli.
Yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku
untuk keperluan pribadi dan habis tanpa sisa setiap bulan.
Dari
kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir
beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak
menyangka. Ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini.
Padahal aku tak pernah sedikit pun menggunakan untuk keperluan rumah
tangga. Entah dari mana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga karena aku tak pernah bertanya. Yang aku tahu sekarang aku
harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji
terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami
bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman
sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku
terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris.
Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat.
Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku
dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang
membuatku tak mampu berkata apa pun adalah isi suratnya untukku. Ia
ternyata telah menyiapkan segalanya ketika harus "pergi" duluan.
Termasuk soal keuangan.
Notaris memberitahu bahwa selama ini
suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil
warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil
deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun
dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis
terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal
menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak
pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak
mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari
demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan
mertuaku pergi satu per satu meninggalkanku selama-lamanya, tak satu pun
meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini
kedua putra putriku berusia dua puluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku
menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu,
aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah 'kan
enggak bisa masak, enggak bisa mencuci, Bagaimana ya Bu?”
Aku
merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah
pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan
segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan
belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apa pun
persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “Seperti cinta Ibu untuk Ayah? Cinta itukah yang membuat Ibu tetap setia pada Ayah sampai sekarang?”
Aku
menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti Ayah mencintai
Ibu dulu, seperti Ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada Ayah
karena cinta Ayah yang begitu besar pada Ibu dan kalian berdua.”
Aku
mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku
pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya,
tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya.
Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas
dari cintanya yang begitu tulus.