Kamis, 23 Februari 2012

Kamu tahu nggak, Bikini Itu apa??

Itulah yang terjadi di AS pada dasawarsa 1950-an, setelah "penemuan baju renang baru" di Paris pada 1946 dipublikasikan. Semula, baju bertali-tali yang hanya menutupi bawah pusar dan buah dada perempuan itu dikecam karena dianggap bertentangan dengan konservatisme Amerika. Ketika pantai-pantai di Italia, Spanyol, Prancis, dan Brasil ramai oleh perempuan berbikini, di pantai Amerika, menampakkan pundak saja dianggap tak sopan. Tapi, tak sedikit perempuan AS yang diam-diam menyukainya.

Rupanya, yang berbikini di luar AS bisa jadi orang Amerika juga. Sebab seusai PD II perekonomian AS membaik hingga memakmurkan warganya. Mereka menjadi turis di mancanegara sambil mencari kebebasan berbikini. Yang tidak melancong, ya berbikini di halaman belakang rumah atau di kolam renang pribadi. Asal tahu saja, jumlah kolam renang pribadi di AS meningkat dari 2.500 (pada 1949) menjadi 87.000 (1959). Majalah Newsweek dalam satu edisi di tahun 1958 menyindir, "Bikini adalah komoditas penuh kontroversi. Dikecam, diboikot, namun laris diperdagangkan. Tiras penjualannya hanya terpaut sedikit dengan bacaan mesum Lady Chatterly's Lover."

Untung, kemunafikan Amerika tak berlanjut karena pelan-pelan masyarakat menerima. Untuk itu mereka patut berterima kasih kepada dua orang pioner asal Prancis. Ditulis dalam Great Events From History II Vol. 3 (1993), orang pertama adalah perancang busana Jacques Heim, yang pada musim panas 1946 menjajakan pakaian renang perempuan di Pantai Cannes. Ia menamai celana dan kutang itu "Atome" untuk menunjukkan ukurannya yang kecil. Ia mengiklankannya dalam spanduk yang diikat pada pesawat terbang bertuliskan "Atome - pakaian renang terkecil di dunia".

Tiga minggu kemudian, ulah Heim disaingi Louis Reard, insinyur mesin yang alih profesi menjadi perancang pakaian renang. Ia juga menerbangkan slogan produknya: "Bikini - lebih kecil daripada pakaian renang terkecil di dunia". Reard cukup agresif. Pada 5 Juli 1946 ia menggelar peragaan karyanya di tepi kolam renang Piscine Molitor, Paris. Reard mengontrak penari bugil Micheline Bernardini untuk memperagakan "bikini".

Rupanya, acara itu sukses. Malah berbuntut kehebohan. International Herald Tribune menurunkan sembilan tulisan tentang bikini, seraya membahas kemungkinannya diterima di AS. Pada 1950-an, majalah Harper's Bazaar dan Esquire mempublikasikan foto model nomor satu di AS, Suzy Parker, memakai bikini. Kemudian, dunia hiburan juga ikut. Pada 1960, lagu Itsy Bitsy Teenie Weenie Yellow Polkadot Bikini masuk daftar tangga lagu populer. Hollywood juga mengedarkan film Where The Boys Are, kisah mahasiswa dengan aktivitas pikniknya di Pantai Fort Lauderdale, Florida.

Pada 1970-an, perputaran uang di sektor bisnis busana renang mencapai AS $200juta/tahun, dan bikini menyedot 20%-nya. Kenapa dinamai "bikini"? Sampai perancangnya meninggal dalam usia 87 pada 1984, tak banyak terkuak. Orang menduga-duga, nama itu dipilih untuk menunjuk pulau atol kecil di Pasifik bernama "Bikini" yang hancur karena dijadikan pusat pengujian bom nuklir AS pada 1946. Dugaan lain, nama "bikini" ditujukan kepada besarnya dampak kehadiran pakaian renang itu pada peta busana dunia. Bikini adalah ledakan di dunia fashion.

Bikini, sekalipun jadi fenomena abad ke-20, sesungguhnya bentuk primitifnya sudah lama ada. Gambar perempuan mengenakan penutup badan mirip bikini pada lukisan dinding di Mino, dekat Pulau Kreta, Yunani, buatan tahun 1600 SM, adalah bukti tertua. Pada 1952, arkeolog Italia juga menemukan mosaik bergambar delapan perempuan sedang gerak badan, mengenakan semacam celana dan kutang penutup buah dada, pada vila bergaya Romawi buatan tahun 400 di Pulau Sisilia.

Bikini, di luar mitosnya, telah ada jauh sebelum menghebohkan Kota Paris tahun 1946 itu.

Kiriman Kacamata

Kisah ini mengingatkan kembali apa yang pernah dikatakan pemikir Thomas Merton, filsuf Amerika Serikat … Tuhan bisa melakukan berbagai perkara penting melalui cara sederhana dan tak terduga.
Sore itu, Kakek merampungkan pekerjaannya membuat lemari kayu yang esok akan dikirim ke panti asuhan di Kalimantan yang terkena banjir, bersama dengan berbagai perkakas seperti ranjang, kursi roda, obat-obatan, selimut sebagai sumbangan dari warga lingkungan kami. Namun sehari kemudian ia panik kehilangan kacamata. Selidik punya selidik, ia baru ingat menaruh kacamata tersebut di dalam lemari yang sudah disumbangkan tersebut. “Duh, Gusti. Saya ‘kan sudah menghabiskan tenaga dan uang menolong sesama. Kenapa malah jadi begini?” gerutu Kakek, seolah menyalahkan Tuhan.

Selang dua bulan kemudian, pengasuh panti asuhan korban banjir tersebut, bertandang ke lingkungan kami untuk menyatakan terima kasih atas bantuan yang diterimanya. “Secara khusus saya berterima kasih atas kiriman kacamata. Maklum, banjir bandang itu memporakporandakan rumah dan seisinya termasuk kacamata saya. Sejak kehilangan kacamata, saya didera sakit kepala berkepanjangan. Kami sekeluarga terus berdoa agar diberi rejeki untuk membeli barang itu kembali. Eh, kebetulan ada yang mengirimkan. Sungguh! Begitu saya pakai, pas dan cocok benar. Sepertinya ini khusus dibikin untuk saya. Terima kasih Tuhan. Doa kami terjawab,” ujarnya terbata-bata.

Tentu saja teman-teman bingung, lantaran tidak ada yang menyumbangkan kacamata. Namun Kakek yang duduk di pojok tak kuasa menahan isak. Terbersit penyesalan, mengapa dulu menyalahkan Tuhan. “Mungkin ketika Tuhan mengunjungiku minta kacamata itu, aku tidak berada di rumah,” kata Kakek dalam hati. Namun ia bersyukur, Tuhan memakainya untuk membahagiakan orang lain dengan cara tak terduga indah.

Rabu, 22 Februari 2012

Aktivitas Fisik Tingkatkan Prestasi Akademik

Ingin anak-anak Anda cerdas? Jangan cuma menyuruh mereka duduk dan membaca sepanjang waktu. Mulai sekarang, buatlah mereka berolahraga bersama, secara kelompok mungkin akan lebih baik.

Sebuah penelitian menunjukkan, aktivitas fisik dapat meningkatkan prestasi akademik anak-anak dan remaja. Seperti dilaporkan Daily Mail, para ilmuwan dari Belanda mengumpulkan data dari 14 sekolah dengan jumlah responden 12 - 53 ribu anak berusia 6 – 18 tahun.
“Menurut hasil penelitian, kita menemukan bukti kuat hubungan positif aktivitas fisik dengan peningkatan akademis anak,” kata penulis penelitian Dr. Amika Sing dari Universitas Vrije di Amsterdam, dalam arsip jurnal Paediatrics & Adolescent Medicine.

Menurutnya, aktivitas fisik membantu kemampuan mental untuk meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak sehingga stres berkurang dan suasana hati pun membaik. Olahraga juga meningkatkan faktor pertumbuhan yang membantu menghasilkan sel saraf baru dan membantu menghubungkan kembali neuron.

Karena tidak banyak penelitian dengan kualitas metodologi tinggi yang menghubungkan antara aktivitas fisik dengan prestasi akademis, “Diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat seberapa banyak aktivitas yang bisa mempengaruhi prestasi akademik; dan untuk hal ini membutuhkan instrumen pengukuran yang valid dan diakui,” jelasnya.

Jurus Merawat baterai Laptop

Laptop atau komputer jinjing diciptakan bagi orang-orang yang aktivitasnya sangat padat dan memerlukan komputer ke manapun dia pergi. Kepraktisan laptop yang dapat dibawa ke mana saja dan dipakai kapan saja merupakan hal yang sangat diperlukan oleh mereka.
Apalagi jika berada di daerah yang sulit untuk mendapatkan listrik, laptop yang sudah terdapat batere di dalamnya sebagai sumber daya, tentu sangat membantu. Tetapi bagaimana jadinya jika berada dalam waktu yang lama dengan kondisi yang tidak ada aliran listrik di sekitar kita?
Baterai laptop yang dapat bertahan lama tentu akan sangat dibutuhkan. Agar dapat terus bertahan dalam waktu lama, baterai laptop perlu mendapat perawatan khusus agar tidak cepat rusak. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar baterai laptop tetap dalam kondisi baik dan mampu bertahan dalam waktu lama.

Pergunakan Baterai Atau Charger yang Sesuai

Jangan pernah menggunakan baterai atau charger yang tidak sesuai dengan laptop yang Anda pergunakan. Jika ingin membeli baterai atau charger, lebih baik Anda membeli di layanan resmi dari produsen laptop yang dimiliki.

Pergunakan Laptop Sesuai Aturan

Pergunakan laptop sesuai dengan aturan yang ada di buku petunjuk dan pastikan sirkulasi udara berjalan bagus. Jangan sekali-kali memakai laptop dengan cara memangku ataupun meletakkannya di atas barang lembut atau empuk yang akan mengganggu sirkulasi udara, misalnya di atas bantal atau kasur.
Hal ini bisa mengakibatkan laptop cepat panas dan tentu saja akan berpengaruh juga dengan umur baterai laptop Anda.

Posisikan Baterai Dengan Benar

Jika dudukan baterai longgar, jangan sekali-kali mengganjal baterai tersebut dengan benda yang terbuat dari logam seperti uang koin, penjepit kertas, atau benda-benda lain yang terbuat dari kertas.
Selain itu jangan letakkan baterai dengan cara menumpuknya dengan benda-benda lain di atasnya. Hal ini akan mengakibatkan kerusakan bagian di dalam baterai.

Simpan Baterai di Tempat yang Kering

Dalam baterai laptop, simpanlah di tempat yang berada dalam suhu kamar. Jangan meletakkan baterai di atas benda yang kemungkinan akan berubah menjadi panas, semisal di atas mesin ataupun di atas kompor. Selain itu hindarkan penyimpanan di bawah sinar matahari langsung. Juga jangan meletakkan baterai di tempat yang basah karena akan mengakibatkan korslet.

Melepas Baterai Jika Bekerja Dalam Waktu Lama

Jika Anda bekerja dalam waktu yang lama, lepaslah baterai laptop dan pakailah sumber listrik sebagai sumber daya laptop. Jika Anda ingin menyimpan laptop dalam jangka waktu yang lama, lepaslah baterai laptop dan simpanlah di tempat kering.
Saat akan dipergunakan lagi, isilah baterai sampai penuh terlebih dahulu baru kemudian digunakan. Hal ini akan mengaktifkan kembali sel-sel yang berada di dalam baterai.
Selain melakukan tips-tips perawatan baterai.Jika ingin baterai Anda bertahan lama saat pemakaian, jangan terlalu banyak menjalankan software, redupkan layar laptop, dan settinglah konfigurasi laptop agar bisa bertahan paling lama.
Semoga dengan beberapa tips merawat baterai laptop ini bisa membantu membuat baterai laptop Anda bertahan lama

Bersyukurlah Untuk Setiap Karunia-Nya

Hidup penuh misteri. Terkadang kita tidak tahu apa yang terbaik bagi jalan kita. Cerita di bawah ini semoga menyadarkan kita bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Aku membencinya. Sangat membencinya, dan itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Aku memang menikah karena paksaan orangtua. Namun begitu aku tak tunjukkan kebencian itu kepada suamiku. Setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas seorang istri. Bisa jadi karena aku tak punya pegangan lain. Aku terbiasa taken for granted sebagai anak satu-satunya orangtuaku. Kedua orangtuaku menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna.

Alhasil, di awal pernikahan kami, aku begitu manja dan suamiku pun memanjakanku. Aku berpikiran bahwa aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka perilakunya yang tak sesuai dengan keinginanku. Misalnya saja meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, menggantung bajunya di kapstock bajuku, memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, atau menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Dokter pun menolak menggugurkan janin yang aku kandung.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan hal itu karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya. Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon milik sahabatku. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Ketika mau membayar, aku terkejut karena dompetku tertinggal di rumah. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, ponselku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membawa dompetku yang tertinggal. Pemilik salon sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan bisa membayar nanti waktu aku kembali lagi. Tapi aku merasa gengsi karena ada "musuhku" tadu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi ponsel suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Akhirnya telepon suamiku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing di ujung sana. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, Ibu. Apakah Ibu istri dari Bapak Armandi?” Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia menyampaikan kabar bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Aku terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat ponsel. Beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap begitu melihat wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar, seorang dokter keluar dan menyampaikan berita bahwa suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, namun juga serangan stroke. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada air mata setetes pun keluar di kedua mataku. Anak-anak memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan saksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya. Inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Airmata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mi cepat saji dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mi cepat saji karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apa pun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu, dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah Ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out. Sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote control televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku salat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku salat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Salatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli. Yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk keperluan pribadi dan habis tanpa sisa setiap bulan.

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka. Ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikit pun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah dari mana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya. Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apa pun adalah isi suratnya untukku. Ia ternyata telah menyiapkan segalanya ketika harus "pergi" duluan. Termasuk soal keuangan.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu per satu meninggalkanku selama-lamanya, tak satu pun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia dua puluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah 'kan enggak bisa masak, enggak bisa mencuci, Bagaimana ya Bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apa pun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “Seperti cinta Ibu untuk Ayah? Cinta itukah yang membuat Ibu tetap setia pada Ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti Ayah mencintai Ibu dulu, seperti Ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada Ayah karena cinta Ayah yang begitu besar pada Ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.